Pages

Rabu, 26 September 2012

Di loteng tak berujung itu....!!! ^0^

Di loteng tak berujung itu, yang katanya siang panas bagai di sauna dan malam dingin bagai di antartika... Loteng tak berujung yang punya daya magnet sangat kuat...mengamati pola tingkah laku mereka dari sudut berjendela... aktivitas di loteng tak berujung ketika kedua jarum jam hampir bertemu di angka 12 dan gelap menyelimuti... 

Di sisi depan, terlihat dua perempuan sedang bercengkrama, sepertinya sedang berbagi isi hati, mengutarakannya hanya empat mata itu sepertinya lebih menyenangkan... selain nyaman, tentu melegakan... rasa galau pun terhalau...

Bergeser ke sisi sudut ruang, masih bagian depan, ada dua laki-laki yang sedang mencoba untuk tidur... sayangnya, keadaan sepertinya tidak mengizinkan mereka untuk segera terpejam... lalu pada akhirnya hanya canda tawa dan tingkah unik yang terjadi... sementara satu laki-laki dengan nyamannya terlentang di lantai tanpa alas, sendirian, berusaha memejamkan mata, namun terusik juga oleh dua laki-laki yang sibuk bercanda di belakangnya...

Beralih ke sudut sisi belakang... terlihat dua laki-laki dan dua perempuan yang sedang sibuk dengan laptop mereka. sementara televisi dibiarkan menyala, mereka malah asyik ber-wi-fi-ria. seakan telah terjadi emansipasi, kali ini televisi yang menonton manusia...

Ketika kaki melangkah melintasi lorong panjang, di ruang pertama terlihat beberapa orang yang sedang asyik menonton film dokumenter mereka, film yang terlihat asal-asalan namun sangat berkesan... sederhana namun berharga...

Sementara di kamar yang seharusnya jadi tempat para laki-laki, namun ketika populasi perempuan melebihi kapasitasnya sehingga para laki-laki mengalah, di kamar itu terlihat beberapa perempuan yang sedang bersiap untuk tidur. mempersiapkan alas tidur, sibuk mencari bantal dan guling, bahkan sibuk mencari posisi...

Beranjak ke kamar satu lagi, kamar terakhir, kamar yang memang khusus untuk para perempuan. mereka sudah terlelap dalam alam mimpi, tak ada lagi suara, tak ada lagi aktivitas, yang ada hanya keheningan yang sesungguhnya...

Lalu kaki menuntun kembali ke sudut berjendela, kini giliran diri ini menikmati malam sambil mendengarkan lantunan lagu-lagu favorit dari mp3... tapi sayangnya, sepertinya nyamuk-nyamuk penghuni tempat ini merasa terusik dengan keberadaanku di sudut berjendela ini, mereka seperti berusaha mengusirku.
Kini giliranku untuk beranjak ke sudut lain, mata ini harus terpejam, meski –jujur– bila berada di loteng tak berujung ini mata sangat sulit terpejam...

Dinamika anak-anak loteng tak berujung, kesederhanaan dalam kebersamaan... semoga tak hanya malam kemarin, semoga kebersamaan itu selalu ada selamanya...
Meski raga tak selalu bersama, namun cerita tentang kita akan selalu ada. loteng tak berujung ini akan menyimpannya dengan manis sampai kita tak lagi ada.

---Dirgahayu PMKRI cabang Palembang Santo Beda Yang Tekun ke-49---

Pro Ecclesia Et Patria....!!!

by : Gizella Manohara

Jumat, 31 Agustus 2012

Bersama Kita Bisa...!!!

Beramai-ramai menjadi "Pejuang Gereja dan Negara"

Pro Ecclesia Et Patria...!!!

"Kenapa seorang mahasiswa harus berpartisipasi dalam organisasi?"

Pertanyaan di atas bukan hanya sebuah pertanyaan. Pertanyaan itu sekarang sudah menjadi sebuah masalah. Dengan berbagai pertimbangan sang Mahasiswa, organisasi menjadi suatu hal yang tabu untuk diambil dan dijalani. Pertimbangan untuk cepat lulus dengan nilai yang memuaskan bagi orang tua, tidak bisa membagi waktu, sampai alasan ingin cepat mendapatkan pekerjaan dengan status Sarjana sudah sering kita dengar dari sebagian teman-teman yang enggan untuk terjun dalam dunia organisasi.
Alasan-alasan tersebut tidak sepenuhnya salah dan tidak sepenuhnya benar.
Ingin cepat lulus... Siapa sih yang tidak mau cepat lulus dengan nilai yang memuaskan? Semua orang pasti menginginkannya...
Cepat lulus itu tergantung orangnya...dia bisa tidak belajar dan berorganisasi berbarengan. Kalau bisa, wah...akan sangat menyenangkan pastinya...:)
Tidak bisa membagi waktu... Buat alasan ini, maaf kalau mengatakan "itu adalah alasan anak SD". Namanya saja sudah MAHASISWA...so pasti udah bisa memutuskan apa yang terbaik buat dirinya sendiri dengan berbagai resiko termasuk waktu, tenaga, dan biaya.
Cepet dapet kerja... Salah satu keuntungan berorganisasi itu ya dapet banyak kenalan. Makin banyak kenalan, makin banyak link kita buat kerja nanti.
Berikut ini keuntungan kita apabila ikut berpartisipasi dalam sebuah organisasi.
1. Mendapatkan ilmu yang tidak kita dapatkan di kampus. Mana ada sih kuliah yang pake-pake sidang. Ilmu itu kita dapat dari organisasi pastinya. Itu salah satunya, masih banyak lagi ilmu yang dapat kita terima dari terjun dalam dunia organisasi.
2. Memperluas wawasan. Memang benar membaca itu jendela dunia, tetapi membaca pun kadang ada kesulitannya karena kita tidak bisa mempraktekkannya secara langsung. Zaman modernisasi mengubah buku menjadi dunia maya dengan segala kemudahannya. Informasi yang kita dapat di internet kadang tidak sama dengan kenyataan. Terjun secara langsung melalui organisasi kadang mengubah cara pandang kita akan suatu hal.
3. Menambah daftar teman. Twitter, Facebook, Skype, dan teman-temannya memang bisa membuat kita menjadi terkenal dan punya banyak teman. Tetapi, teman yang benar-benar kita kenal untuk kita percaya akan sangat sulit kita cari. Organisasi-organisasi, baik intrakampus maupun ekstrakampus biasanya memiliki banyak anggota yang bisa saling mengandalkan.
4.Belajar dewasa. Orang-orang yang ingin sibuk berorganisasi dituntut untuk dewasa. Dewasa dalam pikiran dan tindakan. Berpikir yang positif dan bertindak yang positif.

PMKRI (Perhimpunan Mahasiwa Katolik Republik Indonesia) adalah organisasi ektrakampus yang bergerak dengan bendera Gereja dan Negara. Dengan semangat Tiga Benang Merah, anggota PMKRI berkarya dalam gereja, masyarakat dan negara. Tentu saja teman-teman akan mendapatkan hal-hal yang tidak akan kita dapatkan dari bangku perkuliahan selain hanya menjadi "Pejuang Gereja dan Negara".

Ada kata-kata bagus dari seseorang. Beliau mengatakan bahwa mahasiswa itu ada tiga kriterianya untuk dicap sukses dalam kuliahnya, yaitu IP memuaskan, Organisasi OK, pacaran YES. Jadi bisa dipastikan kita akan benar-benar merasakan enaknya masa-masa menjadi seorang MAHASISWA..

Semangat Pejuang Gereja dan Negara...!!!

Sabtu, 16 Juni 2012


Nonton Bareng Soegija

TIGA BENANG MERAH DI BALIK FILM SOEGIJA



"INTELEKTUALITAS....
 FRATERNITAS....
 KRISTIANITAS...."

Semboyan Tiga Benang Merah yang kita kumandangkan di perhimpunan ini ternyata sudah mulai memudar nilainya.  Padahal semboyan itu mencakup semua aspek kehidupan harus kita perjuangkan terutama sebagai mahasiswa katolik. Semangat INTELEKTUALITAS, FRATERNITAS, dan KRISTIANITAS semakin menghilang terutama di kehidupan perhimpunan sendiri, gereja, maupun di masyarakat. Beberapa masalah yang terjadi di kepengurusan pusat, ketidakpedulian kita terhadap nasib perhimpunan ini, dan ketidakacuhan kita dengan dinamika dalam gereja menjadikan semboyan "Tiga Benang Merah" semakin tertutupi dengan perubahan zaman. 
Film "Soegija" adalah film yang bisa dijadikan contoh bagi kita bagaimana menghadapi tantangan zaman dengan cara yang khas, yakni dengan cara kekatolikan. Tidak harus menjadi seseorang yang maju di medan perang seperti zaman penjajahan, tetapi buatlah sesuatu yang bermanfaat tidak hanya bagi diri sendiri, tetapi bermanfaat bagi banyak orang. Semangat nasionalisme, pluralisme, dan kemanusiaan yang diangkat dalam film ini patutnya dijadikan motivasi kita dalam membangun PMKRI yang semakin matang dalam kehidupan Gereja dan Negara.
Intelektualitas yang kita dapatkan dalam kehidupan patutlah dijadikan dasar dalam bertindak, seperti yang diteladankan oleh Romo Soegija. Berpikirlah dalam ketenangan dan doa sehingga buah-buah pemikiran yang kita hasilkan dapat berguna bagi kedamaian semua orang. Kepandaian tidak akan berguna apabila tidak dibarengi dengan kebijaksanaan dalam berpikir dan bertindak.
Sebagai perhimpunan yang menyoroti kehidupan negara, semangat Fraternitas jangan pula ditinggalkan. Kita berjuang bukan hanya untuk diri sendiri, melainkan berjuang untuk orang lain bahkan negara. Fraternitas ini dalam film "Soegija" diilustrasikan melalui peran seorang wanita yang menjadi perawat dan semua pejuang. Tidak ada kata kamu siapa saya siapa, yang ada hanya siapa kita. Merdeka untuk semua...!!!
Gereja merupakan bagian dari negara. Oleh karena itu, patutnya nilai Kristianitas kita jadinya dinding pertahanan yang pertama dan utama dalam setiap tindakan yang kita ambil. Nilai kemanusiaan yang diangkat dalam film "Soegija" memperlihatkan jiwa Kristus yang ditanamkan dalam hati umatNya.
Dari Yesuslah kita disatukan.
Oleh Yesuslah kita dikuduskan.
Untuk Yesuslah kita berjuang.


Pro Ecclesia Et Patria...!!!

Rabu, 08 Februari 2012

SANTO BEDA

Beda (disebut pula Santo Beda, Venerabilis Beda), (sekitar 672 atau 67325 Mei, 735), adalah seorang rahib benediktin yang menetap dalam Biara Northumbria Santo Petrus di Monkwearmouth, sekarang bagian dari Sunderland, dan berasal dari biara tetangganya, Santo Paulus, di Jarrow sekarang, kedua biara itu berada dalam kawasan county of Durham (sekarang Tyne and Wear), Inggris. Dia terkenal sebagai seorang penulis dan sarjana, dan maha-karyanya, Historia Ecclesiastica Gentis Anglorum (Sejarah Gerejawi Bangsa Inggris) menjadikannya digelari "Bapak Sejarah Inggris".
Nama
Beda dikenal sebagai Venerabilis Beda (Bahasa Latin: Beda Venerabilis, Bahasa Inggris: Venerable Bede, kurang lebih diterjemahkan sebagai Yang Terhormat Beda) segera sesudah kematiannya, namun sebutan ini tidak ada sangkut-pautnya dengan pemberian status santo oleh Gereja Katolik Roma. Sebenarnya, gelar ini diyakini berasal dari kesalahan penerjemahan kalimat Latin yang terukir pada makamnya di dalam Katedral Durham, yang seharusnya berbunyi Di sini berbaring tulang-belulang yang patut dihormati dari Beda, namun disalahterjemahkan sebagai Di sini berbaring tulang-belulang dari Yang Terhormat Beda.
Riwayat hidup
Hampir semua yang diketahui dari kehidupan Beda tercantum dalam sebuah catatan yang ditambahkan sendiri olehnya tatkala berusia 59 tahun ke dalam karyanya Historia (bab 24), yang menyatakan bahwa dia mulai dimasukkan ke dalam biara di Wearmouth pada usia tujuh tahun, bahwa dia menjadi diakon pada usia sembilan belas tahun, dan menjadi imam pada usia tiga puluh tahun. Dia menyiratkan bahwa Historia dirampungkannya pada usia 59 tahun, dan karena karya tulis tersebut rampung sekitar tahun 731, maka mestinya dia lahir pada 672 atau 673. Tidaklah jelas apakah dia seorang keturunan ningrat. Dia dibina oleh para abbas Benedict Biscop dan Ceolfrid, dan besar kemungkinan menyertai Ceolfrid ke biara kembaran Wearmouth di Jarrow pada 682. Di sanalah dia menghabiskan umurnya, kegiatan-kegiatannya yang menonjol adalah mengajar dan menulis. Di sana pula dia meninggal dunia, pada 25 Mei 735, dan dimakamkan, namun jenazahnya kelak dipindahkan ke Katedral Durham.